Call Now: : 0852 8533 5977 (Call) 08999 021 345 (WA)

Connect with us:

Blog Post

Acara Peresmian Pasar Induk Modern Cikopo


RMOL. Pembawa acara pria dan wanita memberikan aba-aba. “Satu… Dua… Tiga…” Pada hitungan terakhir, Gita Wirjawan memukul kendang bertalu-talu diiringi kesenian degung. Disertai letusan petasan menabur pita warna-warni ke panggung berlapis karpet merah.

Acara peresmian pembangunan pasar induk modern Cikopo, Purwakarta, Jawa Barat pada akhir Januari lalu itu, berlangsung meriah.

Gita, yang saat itu menjabat Menteri Perdagangan dan Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan mendukung pembangunan pasar ini. Tak bisa hadir di peletakan batu pertama, Syarief mengutus deputi menteri.

Adalah PT Jakatijaya Megah yang akan membangun pasar ini di atas lahan seluas 30 hektar di Cikopo, Purwakarta, Jawa Barat. Pasar ini bakal memiliki lebih dari 4 ribu kios dan los. Biaya pembangunannya tak sedikit: Rp 800 miliar. Meski begitu, pengembang menjanjikan dalam waktu enam bulan pasar sudah jadi.

Enam bulan telah berlalu. Gapura berukuran jumbo telah berdiri menghadap Jalan Raya Cikopo. Sebagai pembatas sekaligus gerbang ke area pasar induk. Gapura ini belum jadi.

Lahan hendak dijadikan pasar induk masih berbentuk tanah merah. Menghampar sejauh mata memandang. Sebagian sudah digali diratakan sebagai jalan akses.

Jalan akses dibuat mulai dari gapura hingga ke belakang. Baru satu ruas jalan yang dibeton. Itu pun hanya yang dekat dengan gapura. Selebihnya masih jalan tanah.

Gorong-gorong membelah jalan akses di bagian tengah. Dindingnya dari batu kali dan dibuat lebih tinggi dari jalan. Bagian atasnya dibikin rata dengan semen.

Di bagian ini tengah lahan ini telah berdiri dua bangunan. Bentuknya persegi panjang. Bangunan di sebelah kanan lebih panjang dan besar dibanding yang di sebelah kiri.

Tiang-tiang kedua bangunan dibuat dari baja yang berdiri di atas patok beton. Rangka atap bangunan juga dari baja ringan. Sudut atap dibuat landai. Bangunan di sebelah kanan sudah dipasang atap. Warna atapnya biru.

Enam bulan sejak peresmian, hanya dua bangunan itu yang sudah dibangun pengembang. Pedagang yang sudah memesan kios maupun los di pasar induk Cikopo, mulai resah.

Wahyu Ali, pedagang di pasar induk Kramat Jati mengaku tertarik berjualan di pasar induk Cikopo. “Dengar-dengar mau ada pasar induk terbesar di Asia Tenggara. Saya tergiur mau buka di sana,” ujarnya.

Ketertarikannya semakin tinggi karena kios maupun los yang akan ditempati pedagang berstatus hak milik.

“Ini terobosan baru. Dijanjikan hak milik. Sementara di Kramat Jati hanya hak guna bangunan,” ujar pedagang sayur ini.

“Saya putuskan membeli. Teman-teman juga banyak yang ngambil.

Teman-teman mengajak, ‘Ayo kita bareng-bareng lagi kumpul di sana’,” tutur Wahyu.

Ia kemudian memesan los sayur berukuran 3×4 meter di pasar induk Cikopo. Harganya Rp 250 juta dengan uang muka Rp 33 juta. Pemesanan dilakukan lewat tim marketing yang mendatangi pedagang di pasar induk Kramat Jati. “Saya minta dicarikan di bagian depan atau hook,” pintu Wahyu.

Dalam brosur yang dibagi-bagikan kepada pedagang di pasar Kramat Jati, ada beberapa tempat berjualan yang bisa dipesan di pasar induk Cikopo. Yakni los, kios dan ruko. Jumlahnya keseluruhannya 4.598 unit.

Los diperuntukkan bagi pedagang buah, sayur, daging, ikan, eceran dan eceran bumbu. Ukurannya 3×4 meter untuk los buah, sayur, daging, dan ikan. Harganya Rp 250 juta.

Los untuk pedagang eceran berukuran 2×2 meter ditawarkan dengan harga Rp 100 juta. Sedangkan los untuk pedagang eceran bumbu Rp 140 juta. Ukuran lebih besar sedikit: 2×3 meter.

Sementara kios ditawarkan mulai Rp 130 juta hingga Rp 4,3 miliar. Ruko dua lantai berukuran 5×12 meter ditawarkan seharga Rp 2,15 miliar.

Pengembang memberikan keringanan kepada pedagang untuk mencicil uang muka (down payment/DP). Bisa dicicil 6 sampai 10 kali. Wahyu memilih mencicil uang muka 10 kali. Ia dikenakan Rp 3.300.000/cicilan.

Uang cicilan DP disetorkan ke rekening pengembang di beberapa bank. Slip bukti penyetoran rekening bank kemudian ditukar dengan kwintansi berkop dan berstempel PT Jakatijaya Megah.

Singkatnya, Wahyu mulai mencicil uang muka. “Sambil menunggu pembangunan yang dijanjikan,” katanya.

Belakangan dia mendengar kabar tak mengenakkan: pembangunan pasar induk Cikopo terseok-seok. Ia pun menyayangkannya. “Padahal, saya mau tambah dua lagi,” ujarnya.

Ia berharap pengembang bisa memenuhi janjinya untuk segera membangun pasar induk Cikopo. Sehingga pedagang bisa segera berjualan di sana.

Dirut PT Jakatijaya Megah Muhammad Suharli membantah pembangunan pasar induk Cikopo mandeg. “Kita sedang menunggu baja dari pabrikasi,” jelasnya.

Selama beberapa bulan, pengerjaan proyek ini terhambat cuaca. “Kita dihajar hujan terus,” ujarnya.

Hujan terus-menerus itu membuat kondisi tanah jadi gembur. “Untuk membangun pasar ini tanahnya harus kuat sekali,” jelas suami Wakil Ketua MPR Melani Leimena itu.

Suharli mengungkapkan, pembangunan pasar ini didanai Bambang Trihatmodjo. “Dia pemilik tanahnya,” sebutnya. Bambang Tri adalah salah satu putra Soeharto.
Ia menambahkan pembangunan pasar dikebut setelah besi-besi baja untuk bangunan kios dan los datang. Pasar akan jadi dalam waktu tiga bulan.

Sementara Komisaris Utama PT Jakatijaya Megah, Hendra Gunawan ketika dihubungi, menolak berkomentar mengenai progres pembangunan pasar induk Cikopo. “Saya no comment dululah,” ujarnya singkat.

Pasar Induk Cikopo Dijamin Bebas Pungli
Ini Janji Pengembang

Proyek pembangunan Pasar Induk Modern Cikopo Purwakarta akan menghabiskan dana sekitar Rp 800 miliar. Pasar ini akan terdiri dari kios dan los yang jumlahnya 4.700 unit.

“Sesuai namanya, pasar ini akan dilengkapi fasilitas dan cara pengelolaan yang modern. Nantinya pasar induk ini aman, lancar dan bersih,” imbuhnya,” kata.

Komisaris Utama  PT Jakatijaya Megah, Hendra Gunawan, dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Pasar Induk Modern Cikopo, Purwakarta, Jawa Barat, 29 Januari lalu.

Hendra menjamin pedagang yang membuka usaha di pasar induk ini akan bebas dari pungli. Sebab pengembang bekerja sama dengan aparat untuk mengamankannya.

“Semoga pasar ini akan membantu petani dalam menyalurkan hasil produksinya tanpa perantara. Komoditinya meliputi sayur-mayur, buah, daging, ikan basah, ikan asin, beras dan sembako,” ungkap Hendra.

Hadir dalam acara ini Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Direktur Utama PT Jakatijaya Mohammad Suharli, pengusaha nasional Bambang Trihatmodjo, Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Aliemoeso, Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Dalam sambutannya, Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan saat itu mengatakan, selain mewadahi kepentingan pedagang dan pembeli, pasar induk juga hadir untuk menjaga harga pangan tetap stabil.

Keberadaan pasar induk bisa menjamin produk pertanian dan perkebunan dalam negeri terjangkau langsung ke masyarakat dengan harga murah.

“Kami sangat menghargai upaya pihak swasta menjaga stabilitas harga,” kata Gita.

Dirut PT Jakatijaya Megah, Muhammad Suharli mengatakan,  kehadiran pasar induk ini nantinya akan membantu petani dalam menyalurkan hasil produksinya tanpa perantara.

Selama ini, kata Suharli, keuntungan petani berkurang karena menjual hasil produksinya melalui tengkulak. Dengan hadirnya pasar induk, lanjut dia, bisa meningkatkan kesejahteraan petani.

Ia menambahkan, pasar induk ini akan selesai pembangunannya dalam waktu enam bulan.

Sementara Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan keberadaan pasar induk di wilayahnya merupakan sebuah jawaban dan atas penantian panjang masyarakat Purwakarta dan Jawa Barat.

“Adanya pasar induk ini membuka ruang untuk dunia pertanian di Jawa Barat sehingga distribusi barang menjadi cepat,” ucapnya.

Sempat Ramai, Peralatan Kantor Diangkuti Lagi

Sebuah ruko tiga lantai di Jalan Raya Ciledug Nomor 74, Cipulir, Jakarta Selatan nampak sepi dan tak terawat. Pagar besi setinggi dua meter berwarna biru beberapa bagian nampak berkarat termakan usia. Sebuah gembok besi menyantel di pagar besi.

Ruko inilah yang dicantumkan sebagai kantor PT Jakatijaya Megah dalam brosur penawaran. PT Jakatijaya Megah adalah pengembang pasar induk Cikopo, Purwakarta, Jawa Barat.

Selain di alamat ini, pengembang juga mencantumkan alamat kantor pemasaran di Jalan Raya Cikopo Nomor 9, Purwakarta, dalam brosur.

Sampai di depan ruko di Jalan Raya Ciledug Nomor 74, Cipulir, tak terlihat plang nama perusahaan pengembang. Yang ada, plang Manasik Prima. Perusahaan ini bergelut di bidang umroh dan haji, merupakan grup Al Amin Universal.

Di sebelah ruko ini adalah ruko bernomor 74A. Ruko ini menjual benang. Ketut, penjaga toko benang mengaku bekas pemilik ruko bernomor 74.

“Ini dulu tanah saya nomor 74, cuma dibagi tiga ruko. Tapi saya jual begitu sesudah ruko terbangun,” ujar Ketut.

Ia menuturkan ruko bernomor 74 dibeli perusahan travel haji dan umroh Al Amin pada 1996. Ruko dilepas dengan harga Rp 600 juta pada 1996. Cukup tinggi pada saat itu.

Ketut mengatakan pada awal 2014 sempat ada aktivitas di ruko bernomor 74. Banyak perabotan yang dimasukkan ke ruko itu. Mulai dari komputer, meja, kursi hingga lemari.

Ia mendapat informasi, ruko ini akan dipakai PT Jakatijaya Megah. Info diperoleh dari Anton yang mengaku karyawan perusahaan itu.

“Dia (Anton) sering nongkrong di depan ruko, katanya karyawan Jakati. Mendadak banyak karyawannya, ada puluhan. Dulu ramai, karyawan nampak tidak berseragam,” ujar Ketut mengingat-ingat.

Keramaian di tempat ini sebentar. Hanya berselang tiga hari, perabotan di ruko itu diangkuti lagi. Ketut pun tak pernah lagi bertemu Anton. Sejak itu tak ada aktivitas di ruko itu.

Meski tak ada aktivitas, ada orang yang menjaga ruko ini. Ketut menyebut namanya Tisna. Ia tinggal di sini bersama istri dan kedua anaknya. “Dari bujang sampai punya anak dia jagain ini ruko,” ungkapnya.

Ketut hapal rutinitas tetangganya itu. Pergi sebelum jam 8 pagi. Sementara kembalinya malam hari, tak tentu jamnya.

Beberapa kali petugas pajak mendatangi ruko bernomor 74. Tak ada orang yang bisa ditemui, petugas itu menitipkan pesan kepada Ketut.

Begitu Tisna memulai rutinitas di pagi hari, Ketut langsung mengabarkan bahwa ada petugas pajak yang mencarinya. Tisna pun menyampaikan terima kasih atas informasi tersebut. Setelah itu tak ada lagi petugas pajak yang datang.

Pemantauan Rakyat Merdeka Selasa lalu, ruko bernomor 74 itu sama sekali tak ada aktivitas. Rumput-rumput tumbuh di sela-sela cone block yang melapisi terasnya. Pintu rolling door warna pintu tertutup rapat.

Dalam brosur penawaran pasar induk Cikopo dicantumkan alamat situs www.pasarindukmoderncikopo.com. Situs itu tak bisa diakses.

Dirut PT Jakatijaya Mega Muhammad Suharli ketika dikonfirmasi, mengatakan bahwa kantornya berada di lokasi pasar induk Cikopo, Purwakarta yang tengah dirampungkan pembangunannya.